
Italia sejak lama dikenal sebagai salah satu poros fashion dunia. Dari Gucci, Valentino, Prada, Fendi, hingga Versace, Italia telah lama menjadi rumah bagi nama-nama besar yang menentukan arah mode global. Keberhasilan itu tidak datang begitu saja, melainkan lahir dari dedikasi dan etika kerja yang khas.
Etika kerja ala Italia inilah yang kini coba dibawa ke Indonesia oleh Istituto di Moda Burgo Indonesia, lembaga pendidikan mode internasional di Indonesia. Dalam konferensi pers perayaan 14 tahun kehadiran sekolah mode tersebut, Profesor Haute Couture di Burgo, Biagio Belsito, bersama Direktur Utama Burgo Indonesia Jenny Yohana Kansil, menegaskan pentingnya membawa nilai kerja khas Italia ke tanah air.
Belsito menyebut, inti dari etika kerja Italia terletak pada attitude. Hal ini bukan sekadar tentang teknik menjahit atau membuat pola, melainkan bagaimana seseorang bersikap, baik di ruang kelas maupun di rumah mode.
Kesopanan, menurutnya, menjadi fondasi utama. Di Italia bahkan cara berbicara pun dijaga.
“You have to speak polite,” ujar Jenny Yohana menirukan Belsito.
Dalam percakapan sehari-hari, orang Italia terbiasa menggunakan bentuk bahasa orang ketiga sebagai tanda hormat, bukan langsung menunjuk lawan bicara dengan kata-kata yang terkesan kasar.
Hal yang terlihat sepele pun masuk dalam etika kerja. Misalnya, cara menyerahkan gunting. Kalau ujungnya diarahkan ke penerima, kesannya seperti—mengutip Jenny—”do you wanna kill me?”.
Etika kerja Italia juga terlihat dari suasana di rumah mode. Ketika para perajin bekerja, mereka mengedepankan aksi daripada bunyi.
Hal ini, menurut Jenny, kontras dengan kebiasaan sebagian orang Indonesia yang kadang cepat puas dengan kualitas “cukup baik”, sementara Italia menuntut kesempurnaan.
“Dan itu memang misi kita. We would like to bring the Italian know-how to Indonesia and we want to win the local market,” kata Jenny.
Biagio Belsito sendiri salah satu nama besar di dunia mode, ia pernah berkarya bersama Valentino hingga Dolce & Gabbana. Namun, baginya mengajar sebagai profesor di sekolah mode memiliki tempat spesial di hatinya.
“Kerja seorang guru tidak mudah. Kalau murid tidak mengerti, itu bukan karena mereka bodoh, tapi mungkin saya yang menjelaskan dengan cara salah. Tugas saya mencari cara lain,” ujarnya di konferensi pers acara perayaan 14 tahun Istituto di Moda Burgo Indonesia pada Kamis (21/08).
Penulis: Zulfa Salman
BACA JUGA: 5 Fakta JYK Label Pamerkan Batik Durian Lubuklinggau di Milan Fashion Show 2023