Hidup dalam Hustle Culture dan Dampaknya bagi Kesehatan

1 month ago 15
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Gambaran Mahasiswa yang mengerjakan tugas tanpa henti hingga dini hari. Sumber : Dokumentasi Pribadi.

Dalam era digital saat ini, ketika layar ponsel hampir tak pernah lepas dari tangan, kita sering disuguhi kisah-kisah inspiratif tentang orang-orang sukses yang bekerja tanpa henti. Nasihat seperti “kerja keras dulu, istirahat nanti” seolah menjadi standar baru untuk menilai keberhasilan. Bayangkan seorang mahasiswa yang bangun pukul empat pagi untuk belajar, magang, mengerjakan tugas kampus, dan membangun portofolio sambil berharap bisa bersaing di dunia kerja yang semakin padat. Fenomena ini, yang dikenal sebagai hustle culture, sering dianggap resep menuju kesuksesan. Namun di balik cerita motivasi itu, ada dampak yang jarang dibicarakan, terutama bagi kesehatan fisik, mental, dan hubungan sosial. Dalam sosiologi kesehatan, hustle culture bukan sekadar tren kerja keras, tetapi cara masyarakat memaknai tubuh, kesehatan, dan produktivitas.

Asal Usul dan Fenomena Hustle Culture

Hustle culture bukanlah hal baru. Istilah ini muncul dari kata husselen dalam bahasa Belanda yang berarti mengguncang atau mendorong dengan kasar. Ia mulai populer pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 sebagai simbol kerja keras tanpa batas waktu (Perić, 2024). Pada 1970-an, fenomena serupa muncul di Jerman akibat industrialisasi yang menggantikan pekerja manusia dengan mesin. Banyak buruh kehilangan pekerjaan penuh waktu dan akhirnya mengambil beberapa pekerjaan demi bertahan hidup (Maharani et al., 2024). Dari sinilah budaya kerja tanpa henti berkembang.

Di Indonesia, hustle culture tumbuh subur di kalangan mahasiswa, terutama generasi Z yang berusia 18 sampai 24 tahun (Sari et al., 2024). Persaingan di platform seperti LinkedIn dan kebijakan Merdeka Belajar membuat banyak mahasiswa merasa harus selalu unggul. Salah satu penelitian menunjukkan sebanyak 80% mahasiswa mengaku bekerja sejak awal kuliah, dan 61,30% berada pada kategori hustle culture tinggi dengan jam kerja lebih dari 28 jam per minggu (Maharani et al., 2024). Tidak heran jika beberapa penelitian menyebut generasi ini sebagai generasi “paling stres sepanjang sejarah” akibat ketidakseimbangan antara kuliah, pekerjaan, dan kebutuhan istirahat (Sari et al., 2024).

Dampak Negatif pada Gaya Hidup dan Kesehatan Mental

Meski sering dipuji sebagai jalan menuju kesuksesan, gaya hidup ini membawa risiko kesehatan yang serius. Hustle culture mendorong orang bekerja terus-menerus, bahkan merasa bersalah ketika beristirahat. Target yang tidak realistis dan obsesi terhadap produktivitas dapat memicu kelelahan kronis (Metris, 2024). Penelitian Perić (2024) menunjukkan bahwa jam kerja panjang berkaitan dengan gejala kecemasan, depresi, dan penurunan kualitas tidur yang akhirnya meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Di Indonesia, generasi milenial dan Z yang terjebak dalam budaya ini rentan mengalami burnout, ketika pekerjaan menjadi prioritas sampai-sampai waktu pribadi terabaikan (Metris, 2024). Tekanan ini memperbesar risiko gangguan kesejahteraan mental karena mahasiswa harus menghadapi persaingan yang tidak mudah dikendalikan. Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga sosial. Banyak dari mereka kehilangan koneksi dengan keluarga dan teman sehingga semakin rentan terhadap isolasi.

Perspektif Sosiologi Kesehatan dalam Hustle Culture

Sosiologi kesehatan memandang bahwa gaya hidup, lingkungan sosial, dan nilai budaya ikut membentuk perilaku kesehatan seseorang. Pada kasus hustle culture, tubuh dan kesehatan menjadi alat untuk mencapai reputasi, portofolio, dan status sosial

Tubuh sebagai Modal Sosial

Mahasiswa sering kali bekerja tanpa henti untuk membangun apa yang mereka sebut social capital atau modal sosial yang diharapkan membuka peluang di masa depan (Maharani et al., 2024). Tubuh akhirnya diperlakukan layaknya mesin yang harus terus berproduksi, bukan entitas biologis yang membutuhkan istirahat.

Normalisasi Ketidakseimbangan

Dalam sosiologi kesehatan, normalisasi kerja berlebihan dapat dianggap bentuk penyimpangan yang diterima sebagai kewajaran. Orang yang bekerja secukupnya malah sering dianggap kurang ambisius.